DESA MALUM

Malum dalam bahasa Pak Pak berarti sejuk. Memang benar, daerah ini memiliki udara sangat sejuk karena berada dilembah yang dikelilingi oleh bukit. Udara masih sejuk, tetapi tidak tahu lagi beberapa tahun mendatang jika perusahaaan tambang timah hitam PT Dairi Prima Mining sedah beroperasi. Desa Malum masuk wilayah kecamatan Sitelu Taliurang Jehe, Kabupaten Pak Pak Bharat

Lokasi Desa Malum

daipak_adm_mcv-xDesa malum berada diantara kawasan hutan Lindung (Register 66 dan Register 67) di koordinat N: 02° 40’ 02.3” E: 098° 07’ 11.2” Dpl 408 M. Desa Malum terdiri 3 Dusun, yaitu Dusun Lae Marampat, Dusun Lae Parira, dan Dusun Binanga Niur. Dusun Lae marampat merupakan Pusat pemerintahan Desa dan jarak menuju Dusun Lae Parira 800 M, dan Dusun Binanga Niur 4 Kmluas

Desa ini dapat diakses melalui jalur jalan negara yang menghubungkan antara Kota Sidikalang dan Singkil.  Jarak tempuh menuju desa ini 42 KM dari Kota Sidikalang, 38 KM dari kota Salak (ibukota Kabupaten Pakpak Bharat), 21 KM dari ibu kota Kecamatan Sitelu Taliurang Jehe (STTUJ)-Sibande, atau tepatnya 4 KM lagi menjorok kearah hutan dari simpang Dsn. Bulu didi desa Lae Ikan kec.STTUJ Kab.Pak-pak Barat.

Menuju desa Malum satu-satunya jalan masuk adalah melalui Simpang Bulu Didi (Dusun Bulu Didi desa Tanjung Mulia) melalui jalan yang mendaki, berbukit dan berbatu.

Mobil dan sepeda motor hanya mampu sampai dusun Lae Marampat dan Lae Parira. Untuk menuju dusun  Binanga Niur (4 km) dari dusun Lae Marampat hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki atau mobil type Double Cabin.

Penduduk .

Jumlah Penduduk desa Malum 126 KK atau Total 407 Jiwa. Perempuan  189 Jiwa, Laki-laki  218 Jiwa, dan anak-anak usia 0 s/d 18 tahun 196 jiwa.

Komposisi Penduduk Menurut Katagori Usia (Database Puskesmas STTUJ, 22 Mei 2008) :.Data base Puskesmes STTUJ (22 Mei 2008).

Komposisi Menurut Etnis dan Agama. Agama Islam 328 Jiwa, Kristen Protestant 63 Jiwa.(Batak toba), dan Kristen Katolik 16 jiwa  (Batak toba). Di desa Malum tidak ada marga yang dominan. Beberapa marga batak Pak-pak yang ada diantaranya adalah marga Angkat, Cibro, Manik, Gajah, Brutu, Solin, Sijabat, Padang jambu, Banchin, dan beberapa marga batak yang lain adalah Simbolon, Silalahi, Situmorang, Sinaga, Nadeak, Siregar.

Transportasi ke Kampung

Selain kendaraan pribadi, mobilisasi masyarakat keluar masuk desa dapat dilakukan dengan  menggunakan kendaraan umum yang ada 2 kali seminggu, yaitu  pada hari Rabu (hari pekan di Sibande/ibukota Kecamantan) dan hari Minggu (hari pekan di desa Nanjombal). Diluar hari pekan, masyarakat biasa menggunakan ojek dengan ongkos Rp.20.000,- (sampai ibukota Kecamatan) atau Rp.15000,- (sampai di Simpang Dusun Bulu Didi, Desa Lae Ikan)

Pandangan Masyarakat tentang Hutan

Ada 2 status kawasan hutan yang hingga sampai kini tetap diakui oleh masyarakat, yaitu Hutan Lindung (Negara) dan Hutan ulayat (adat).

Persepsi masyarakat untuk kawasan hutan lindung, mereka mengatakan bahwa kawasan lindung merupakan kawasan yang tidak dapat diganggu dan diusakahan sebagai perladangan.

Sedangkan Hutan Adat merupakan hak ulayat masyarakat yang dikelola dan menjadi hak milik secara turun-temurun. Proses pengelolaan/pemamfaatan lahan ulayat (adat) harus melalui izin Pertaki (ketua sulang silima).

Antara hutan lindung dan  hutan adat masih belum ada data tapal batas yang jelas antara keduanya.

Beberapa keterangan menyebutkan bahwa jalur pembatas antar hutan ini adalah sebuah pilar buatan pada zaman belanda, akan tetapi sampai saat ini belum ada warga/masyarakat yang menyatakan pernah melihat atau melalui pilar tapal batas tersebut.

Disisi lain, konversi lahan yang dilakukan oleh masyarakat terus melaju cepat. Berkebun nilam dan kelapa sawit merupakan alasan yang biasa dipakai oleh masyarakat untuk membuka kawasan berhutan yang  memiliki topografi curam itu.

Mata Pencaharian Penduduk.

Penduduk Desa Malum secara umum bermata pencaharian sebagai petani. Komoditi yang biasa diusahakan adalah  Gambir, Nilam, Padi Darat, Kelapa Sawit, Durian, Kopi Robusta, dan karet.  Selain pasar yang masih sangat tergantung dengan pedagang pengumpul, di lahan mereka sering dihadapkan dengan persoalan hama seperti kera dan babi hutan.

± 70% hasil produksi pertanian masyarakat ditampung oleh pedagang pengumpul yang masuk kedesa dengan rendah. Jika masyarakat menjual di pekan (pasar) yang ada di Desa Nanjombal (8 KM dari desa), tetap saja harga pasar ditentukan oleh para tengkulak.

Sungai sebagai Sumber Air.

Desa Malum setidaknya memiliki 6 (enam) buah aliran sungai. Bagi masyarakat, sungai digunakan sebagai penyedia sarana air bersih (MCK) sekaligus daerah tangkapan ikan, yang dimamfaatkan secara rutin setiap harinya oleh masyarakat desa tersebut,dan

Ke 6 (enam) Sungai tersebut adalah :

1.     Sungai Lae Marampat

 

4.       Sungai Lae Bartungen

2.     Sungai Lae marlempang

 

5.       Sungai Lae Kakapen

3.     Sungai Lae Marsada

 

6.       Sungai Lae Siblagen

Akibat konversi lahan, sungai yang memiliki nilai penting bagi masyarakat kondisinya semakin terancam. Debit air sering turun saat musim kemarau dan keruh saat musim penghujan.

Sebagai sumber ikan, saat ini sungai sudah mulai terganggu karena sering ada penangkapan ikan dengan menggunakan racun yang dilakukan oleh orang dari luar kampung.

Air Terjun

Desa Malum memiliki 2 lokasi air terjun yang cukup besar dan masyarakat sering menyebut 2 air terjun tersebut dengan sebutan Londut dan Leter Ka. Menimbang tingginya air terjun, ke dua air terjun tersebut potensial dikembangkan pembangkit tenaga listrik mikro hidro.

Sarana Publik 

Pasar : Pekan di ibu kota Kecamatan à hari Rabu di sibande Pekan desa tetangga à hari Minggu di desa Nan jombal Pekan di Kabupaten à hari Kamis di Kota Salak

Sarana Kesehatan : 1 Unit Puskesmas Pembantu (Pustu) di Dsn Lae Marampat.

Sarana Penerangan : Tidak ada penerangan Listrik (PLN tidak masuk)

Sarana Rumah ibadah. Gereja :  2 unit gereja, Katolik dan Pantakosta di Dsn Lae Marampat. Mesjid : 1 Unit Mesjid terletak di Dsn Lae Marampat1 (satu buah Musollah) du Dsn Binanga Niur

Sarana Kantor & Pelayanan Pemerintahan desa : kantor

Balai Pertemuan Adat Sulang Silima. Satu buah terletak didusun Binanga Niur, yang  dimiliki  oleh sulang silima marga Cibro, Sulang  silima Marga angkat dsn Lae Marampat, dan Lae Parira tidak  memiliki balai pertemuan adat dan segala urusan dan   pertemuan adapt dilaksanakan dirumah kediaman ketua Sulang  silima marga angkat (Bpk. Pendi Angkat).

 

 

Iklan

3 Tanggapan to “DESA MALUM”

  1. desa mlum desa yang indah…. baru 1 minggu kemaren dari sana… sungainya mengalir dengan indah, jernih dan keren

    save our forest save mawas

  2. untuk pelestarian kami marga angkat pasti mendukung……..Lanjutkan………

  3. Njuahnjuah, Informasi ini sangat penting. Sayang tidak disebutkan kapan status yang dipaparkan disini. Hutan dan sumber alam yang ada disana harus dilestarikan. MEmang penduduk setempat tidak mau mengganggu keberadaan hutan dan sumber alam karena adanya hukum adat dan kesadaran mereka dalam pemeliharaan alam. Tapi masuknya orang luar yang datang merusak hutan dan sumber alam – demi memenuhi keserakahan mereka- tidak bisa dicegah. Oleh sebab itu diperlukan campur tangan dan perhatian Pemda Pakpak Bharat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: