Batang Toru

 

ou-jantanKawasan hutan alam di Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB) merupakan kawasan transisi biogeografis antara kawasan biogeografis Danau Toba Bagian Utara dan Danau Toba Bagian Selatan. Kondisi transisi mengakibatkan kawasan ini memiliki keunikan dan keragaman hayati yang tinggi dengan beberapa tipe ekosistem yang mulai dari dataran rendah sampai perbukitan hingga pegunungan. Variasi habitat yang ada di kawasan ini merupakan ekosistem yang masih asli dan relatif utuh.

Di kawasan HBTBB dapat ditemukan 67 jenis mamalia, 287 jenis burung, 110 jenis herpetofauna dan 688 jenis tumbuhan. Di samping Orangutan Sumatera, kawasan ini juga menyimpan populasi flora dan fauna lainnya yang secara global terancam punah, seperti Harimau Sumatera, Tapir, Kambing Hutan, dan Elang Wallacea. Berdasarkan status konservasinya teridentifikasi 20 spesies mamalia yang dilindungi. Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara telah menetapkan kawasan HBTBB sebagai salah satu daerah prioritas dalam pelestarian keragaman hayati (key biodiversity area) di Indonesia.

Kawasan hutan HBTBB seluas 103.009 hektare, secara administrasi berada pada wilayah tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Diharapkan dokumen ini akan membantu proses pengenalan target-target konservasi oleh para pihak dengan cara mengakumulasi dan menganalisis informasi yang ada di HBTBB, termasuk juga pengidentifikasian habitat dan informasi biofisik sejenis lainnya yang mungkin dapat dipergunakan sebagai proksi untuk merepresentasikan nilai-nilai keragamanhayati di kawasan ini.

 

Sosial Ekonomi Masyarakat

Penduduk yang berdomisili di sekitar kawasan hutan Batang Toru mencapai 38.622 jiwa (tahun 2003), yang masuk ke dalam 53 desa pada 10 kecamatan di tiga kabupaten.

Diperkirakan sejak awal abad ke-19, hutan Batang Toru telah dimanfaatkan oleh penduduk di sekitarnya untuk menyokong penghidupan mereka, seperti: agroforestri yang berbasis pada komoditas kemenyan, kopi dan karet. Intensitas pemanfaatan lahan sangat beragam mulai dari sawah, kebun campur dan hutan kemasyarakatan. Di beberapa lokasi, dirasakan masih cukup kuat sistem kepemilikan secara adat. Bentuk sistim-sistim pertanian berbasis pohon tersebut berupa agroforestri/ wanatani karet tua. Total Ekonomi kawasan hutan Ekosistem Batang Toru sebesar Rp. 3,632,290,906,048 per tahun.

 

Ancaman Keberadaan Kawasan

Kawasan HBTBB seluas 103.009 hektar yang merupakan kawasan hutan yang tersisa bagi sekitar 400-an ekor Orangutan, seperti halnya kawasan hutan lainnya di Indonesia, mengalami berbagai ancaman. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum menjadi salah satu faktor pendorong kawasan ini semakin terfragmentasi, dan akhirnya mengancam keberadaan keragamanhayati yang ada di dalamnya, seperti Orangutan. Beberapa bentuk ancaman yang teridentifikasikan dan penting untuk mendapatkan perhatian dalam melestarikan kawasan HBTBB diantaranya:

Pembalakan kayu, dimana sejak 1980-an kawasan hutan produksi yang terdapat dalam HBTBB telah menjadi bagian dari konsesi HPH PT Teluk Nauli (blok Anggoli) seluas 32.000 hektare.  Ektraksi pada kawasan ini sudah dilakukan  pada 1999-2001 dan belum beroperasi kembali karena masih menunggu persetujuan perpanjangan izin. Tanpa perubahan yang sistematis dalam pengelolaan kawasan hutan produksi di kawasan ini dikhawatirkan akan menjadi ancaman utama dalam kelestarian kawasan HBTBB.

Pembalakan kayu illegal yang diakibatkan timpangnya pasokan dalam pengadaan kayu terutama untuk kebutuhan lokal ditenggarai merupakan ancaman serius terhadap keutuhan hutan di HBTBB. Modus dan sistem yang berkembang pada kejahatan kehutanan ini telah maju pesat, sehingga menyulitkan aparat dalam melakukan penegakan hukum.

Kegiatan industri dan pertambangan akan berpotensi merusak kawasan hutan dengan adanya kegiatan penggalian dan penimbunan. Peningkatan pada keseluruhan intensitas pengeboran  di areal proyek Martabe secara signifikan akan berkorelasikan dengan penurunan kepadatan orangutan.

Perburuan satwa liar yang terjadi biasanya dipicu oleh lemahnya pengawasan dan penegakan hukum dari aparat pemerintahan dan rendahnya kesadaran masyarakat. Di samping untuk diperdagangkan, dilaporkan pula bahwa satwa buruan yang berhasil ditangkap dikonsumsi oleh masyarakat sebagai pemenuhan kebutuhan proteinnya. Degradasi dan fragmentasi habitat juga diduga kuat menjadi pemicu meningkatnya jumlah satwa liar yang di buru. Satwa yang keluar dari hutan dan menampakan diri di kawasan pemukiman atau lahan budidaya masyarakat akan menjadi binatang buruan atau masuk ke dalam perangkap yang dipasang oleh masayarakat sekitar hutan. Dari perspektif masyarakat sekitar hutan keberadaan satwa liar ini dianggap sebagai hama pengganggu dan kemudian diburu.

Perburuan juga dipicu oleh tingginya nilai ekonomis dari beberapa satwa liar. Di samping perburuan dan pemasangan perangkap satwa, dilaporkan juga sering terjadi pemakaian bahan kimia sejenis endrin untuk meracuni babi di beberapa kawasan HBTBB, terutama di kawasan yang berada di sekitar wilayah perkebunan. Hal ini sangat mungkin akan pula meracuni satwa pemangsanya, seperti harimau, ketika mereka memangsa babi yang telah terkena racun.

Okupasi Kawasan untuk Pertanian. Walaupun dilaporkan bahwa keberadaan komunitas Nias di kawasan ini dimulai sejak beberapa dekade yang lalu, namun mengalami peningkatan sejak terjadinya gempa dan tsunami yang melanda Nias sekitar awal 2005 yang lalu. Tercatat sekurang-kurangnya sekitar 18 pemukiman baru migran dari Nias telah berdiri di sekitar HBTBB dengan jumlah tidak kurang dari 1200 KK, dimana beberapa pemukiman baru ini diindikasikan telah berada pada kawasan hutan lindung. Pola migrasi masyarakat Nias biasanya tidak dalam rombongan besar dan jika perantau ini  telah berhasil maka ia akan membawa anggota keluarganya, serta mulai membuka hutan untuk perladangan dan pemukiman baru. Okupasi kawasan ini dipandang akan menjadi ancaman utama bagi keberadaan HBTBB khususunya pada daerah barat kawasan ini

 

Target Konservasi

Hasil Lokakarya Multi Pihak Pengembangan Rencana Aksi Konservasi HBTBB, Parapat 11-12 Desember 2007, dan hasil revisi oleh tim kecil, dalam rencana aksi konservasi HBTBB menggunakan 5 target konservasi kunci, yaitu Sub DAS penting, Koridor Hutan, Orangutan, Harimau, dan Rangkong.

 

Sistem Daerah Aliran Sungai (DAS)

HBTBB memiliki 60 sub DAS, dengan total luasan daerah sebesar 211,690 hektare. Beberapa sub DAS ini memiliki peran penting bagi masyarakat, dimana keberlanjutan pembangkit listrik tenaga air sebesar 55 MW di Tapanuli Tengah (PLTA Sipan Sihaporas) dan sektor pertanian masyarakat sangat tergantung dari keberadaan jasa lingkungan jangka panjang yang dihasilkan oleh hutan yang ada di dalamnya.

Kerusakan DAS di HBTBB dapat menjadi penyebab terjadinya banjir dan longsor, karena pola aliran sungai di Ekosistem Batang Toru memiliki pola paralel menuju ke satu arah dari lereng bukit terjal menyatu di sungai utama, yaitu Batang Toru. Pembalakan kayu, konversi hutan alam atau pembuatan jalan memotong punggung bukit, menyebabkan aliran di hulu sungai tersumbat kayu, batuan dan tanah. Selanjutnya membentuk bendungan alam dengan tenaga perusak yang besar bagi daerah di hilir dan lembah dalam bentuk banjir yang disertai limpasan material batuan dan tanah (Perbatakusuma, dkk, 2006).

Sub DAS penting menjadi target konservasi kunci karena perlindungan DAS berarti perlindungan terhadap yang ada di dalam DAS/Sub DAS dan sistem hidrologinya.

 

Koridor Hutan

Keberadaan koridor sangat penting bagi konservasi kawasan dan spesies yang ada di dalamnya. Pada sebuah kawasan hutan yang tidak memiliki koridor penghubung dengan hutan lainnya di sekitarnya, jika terjadi sebuah kebakaran atau ada bencana alam lainnya yang mengakibatkan semua populasi dari sebuah spesies tertentu di dalamnya habis, maka spesies tersebut akan benar-benar hilang atau punah di dalam kawasan hutan itu, akibat tidak adanya spesies sejenis yang bermigrasi ke dalamnya.

Spesies-spesies besar, seperti harimau dan gajah, mereka membutuhkan areal jelajah yang sangat luas dalam mencari makan atau mangsa, koridor hutan sangat membantu mobilitas spesies besar ini untuk berpindah dari satu blok hutan ke blok hutan lainnya, sehingga dapat menghindari konflik dengan manusia. Pada sebuah kawasan hutan yang kecil dan tidak memiliki koridor, spesies yang ada di dalamnya hanya akan melakukan perkawinan sedarah (inbreeding) yang secara genetik rentan mengakibatkan kepunahan pada populasi yang ada, karena tidak dapat melakukan perkawinan dengan populasi lainnya.

Banyak hasil penelitian dan pengalaman kegiatan konservasi yang memperlihatkan bahwa koridor sangat membantu kelompok burung dalam bermigrasi dari satu blok hutan ke blok hutan lainnya.

Pada konservasi bagi HBTBB, terdapat beberapa koridor potensi. Berdasarkan analisa sistem informasi geografi (geographic information system, GIS) menyangkut keragaman hayati yang ada di dalamnya, berdasarkan beberapa kriteria, yang dipadukan dengan survei lapangan untuk melihat eksistensi ancaman,  OCSP menilai tiga koridor yang dapat dijadikan daerah target untuk intervensi penting, yakni: Lubu Pining di Utara, Hutaimbaru di Tengah dan Aek Nabara di Selatan


Satu Tanggapan to “Batang Toru”

  1. the most dangerous species is person who care with conservation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: